Memahami Kondisi Diri Saat Berkendara

Dalam perayaan hari pertama Nissan JukeIndonesia Association (NJIA) di Taman Edutainment Center Sentul City, Bogor, Minggu (21/10), Indonesia Defensive Driving Center (IDDC) memberikan pemaparan tentang pentingnya Safety-driving dan Eco-driving bagi komunitas NJIA.

Sebelum dipaparkan lebih jauh mengenai defensive driving terkait keselamatan berkendara, tidak ada salahnya menyimak hasil studi tentang kecelakaan bermotor di Amerika Serikat (AS). Berdasarkan studi di Amerika, setiap tahun kemungkinan kita mengalami kecelakaan di jalan adalah sekitar 1 : 5.

Sedangkan kemungkinan untuk terluka serius sampai menyebabkan cacat adalah 1 : 83. Sekitar 1/3 dari kematian pada usia 16-21tahun, terjadi karena kecelakaan kendaraan bermotor.

Sementara 85% penyebab kecelakaan kendaraan bermotor disebabkan oleh kesalahan pengemudi (human error). Di Indonesia persentase kecelakaan yang disebabkan oleh kesalahan pengemudi (human error) lebih dari 97%.

Statistik Kecelakaan Lalu Lintas Dunia tahun 2009 menyebutkan, sedikitnya 12 juta  jiwa meninggal setiap tahun. Artinya, setiap hari ada lebih dari 3.000 jiwa termasuk melayang, 500 di antaranya adalah anak-anak. Lebih dari 50 juta orang cacat seumur hidup di mana 85% terjadi di negara berkembang.

Statistik kecelakaan lalu lintas Indonesia pada 2010 tercatat 31.234 orang meninggal karena kecelakaan lalu lintas atau 86 orang meninggal setiap hari. Untuk menghindari kecelakaan, IDCC menyarankan pengendara untuk melakukan defensive driving.

Apa itu defensive driving? Menurut IDDC, defensive driving adalah perilaku mengemudi yang dapat membuat kita terhindar dari masalah, baik yang disebabkan oleh orang lain atau diri kita sendiri. Lebih merupakan pendekatan intelektual tentang bagaimana cara mengemudi dengan aman, benar, efisien dan bertanggung jawab (behaviour based driving).

“Selalu berpikir jauh ke depan dan selalu waspada terhadap segala kemungkinan resiko yang terjadi,” tegas IDDC.

Kondisi Pengemudi

Pengertian safety driving bisa dikatakan berkendara dengan keterampilan dan pengalaman (skill based driving) berdasarkan standar keselamatan dan cara-cara berkendara yang aman, selamat dan benar, ditambah dengan sikap mental positif  dan kewaspadaan secara terus menerus.

Ada 4A, kunci menjadi  pengemudi defensive. Pertama adalah Alertness  (kewaspadaan), kedua Awareness (kesadaran), ketiga Attitude (perilaku), dan keempat Anticipation (antisipasi). IDDC mencatat ada dua pendekatan dalam berkendara, yakni proaktif dan Reaktif.

Proaktif merupakan perilaku berkendara defensive bertujuan untuk meminimalkan resiko. Merupakan pendekatan cara mengemudi secara mental (kognitif). Pendekatan proaktif adalah hal yang paling relevan, tetapi terkadang pengendara jarang melakukannya.

Ada beberapa contoh tindakan proaktif, seperti menyediakan ruang atau jarak, kesadaran diri, selalu waspada, melihat dan dilihat, konsentrasi terus menerus, pikirkan jalan keluarnya, dan pahami batasan (Anda dan kendaraan).

Sedangkan reaktif lebih merupakan berkendara dengan mengandalkan ketrampilan dan  kemampuan. Namun lebih berharga bertindak proaktif untuk mencegah daripada hanya bergantung kepada ketrampilan (skill) mengemudi semata.

Setidaknya ada tiga faktor utama defensive driving, yakni Kondisi Pengemudi (Driver’s Conditions), Karakter Pengemudi (Driving Personality), dan Kondisi Kendaraan (Car/Vehicle Conditions).

Kali ini, yang coba dijelaskan adalah Kondisi Pengemudi (Driver’s Conditions), yang meliputi kontrol emosi, seperti sedang dihinggapi perasaan senang, sedih, marah, kecewa, takut, dan depresi. Selanjutnya penglihatan, yaitu kemampuan melihat object statis dan dinamis, buta warna, rabun ayam, dan kemampuan kedalaman persepsi.

Menyusul soal pendengaran, kemampuan yang dimiliki oleh seorang pengendara dalam mendengar suara dengan frekuensi tertentu. Berikutnya gangguan fisik permanen (physical conditions), seperti cacat tubuh, usia lanjut, sakit kronis long term.

Gangguan fisik sementara (temporary physical conditions), mencakup fatique, sakit tidak permanen seperti  flu, sakit kepala dan sebagainya.

Lantas hal apa saja yang dapat menyebabkan pengemudi mengalami fatigue? IDDC, menjelaskan tiga hal yang menjadi penyebab, yakni saat mengemudi jarak jauh, ketika mengemudi di jalan yang sama karena dilakukan berulang kali dan menjadi jenuh, dan saat mengemudi malam hari setelah bekerja seharian, dan berkendara di saat biasanya kita tidak beraktifitas.

Lainnya pemicu fatique, mencakup tidak cukup istirahat sebelumnya (± 4 – 7 jam) atau baru saja makan makanan yang tinggi karbohidrat (tanpa istirahat cukup).

Bagaimana ciri-ciri fatigue? Ciri-cirinya dapat dikenali dengan tanda-tanda, misalnya sering menguap, mata terasa panas, kering, dan lelah, persepsi jarak dan kecepatan berkurang, konsentrasi dan  refleks berkurang, serta peripheral vision menyempit.

Untuk mencegah fatigue, IDDC menyarankan pengemudi beristirahat 20-30 menit setiap 4 jam berkendara dan tidak lebih dari 12 jam berkendara dalam sehari (UULLAJ No. 22 tahun 2009), beristirahat cukup 4 – 7 jam sebelum beraktifitas, tidak dalam pengaruh alkohol dan obat-obatan, tidak makan makanan berkadar lemak tinggi tanpa istirahat cukup.

Selain itu pengemudi tidak mengandalkan kafein atau stimulan, makan makanan ringan (biskuit, crackers),  buah, coklat dan air mineral, buka kaca, dan hirup udara segar atau buka saluran ventilasi udara dari luar. Memanfaatkan udara segar akan lebih baik dari pada menggunakan AC terus-menerus.

Pasalnya, kadar oksigen bisa berkurang, karbon dioksida terus bertambah bila udara AC terus bersirkulasi lebih dari 2 jam.